Kisah Inspiratif, "Tukang Bubut" Subang Yang Konsisten Budayakan Kearifan Lokal & Seni Tradisi Daerah
SUBANG, - Ditengah-tengah derasnya arus globalisasi saat ini, tak dinafikan telah membawa banyak perubahan dalam sendi-sendi kehidupan manusia, baik dari segi Kebudayaan dan tradisi barunya yang condong kebarat-baratan.
Sebuah keharusan, adalah menjaga budaya kearifan lokal dan tradisi budaya yang sudah mengakar secara turun temurun sebagai upaya mempertahankan identitas bangsa Indonesia.
Jika tidak, tentunya budaya dan tradisi asing tak bisa dibendung, dengan sendirinya akan mengikis semua budaya setiap daerah dengan menggrogoti tatanan nilai dan moralitas masyarakat yang sudah ada.
Menyikapi hal tersebut, Sanggar seni ringkang nonomanlah salah satu sanggar yang sampai saat ini masih tetap konsisten dalam merawat kebudayaan lokal dan seni tradisi daerah.
Dimana sanggar ini, hadir menjadi "Angin segar" bagi para seniman dan budayawan Indonesia sebagai wadah bertukar pikiran dan gagasan .
Ditempat inilah, ide-ide liar para seniman dan budayawan Subang bahkan dari luar kota Subang, mengaplikasikannya menjadi sebuah maha karya yang bisa dinikmati oleh semua masyarakat Indonesia hingga mancanegara.
Saat di wawancara secara khusus redaksi Lampusatu. com, dikediamannya, Pendiri Sanggar Seni Ringkang Nonoman Nono Tarsono yang akrab di sapa Master Tukang Bubut (MTB), mengungkapkan sepak terjang dari sebuah sanggar yang telah memasyarakat di Kabupaten Subang.
Yang awalnya ia juga tak percaya bisa merintis sebuah sanggar yang saat ini, diklaim akan dijadikan laboratorium budaya.
Dimana sebuah tempat yang diciptakan natural, bukan hanya ada aktivitas pelatihan tarian, edukasi, tetapi juga dilengkapi dengan ragam permainan anak (Kaulinan budak) zaman dahulu kala.
Simak wawancara singkat Galih Andika, dengan pendiri sanggar seni ringkang nonoman Nono Tarsono.
GA: Kenapa Anda sangat peduli menjaga budaya dan tradisi kesenian daerah kota Subang sampai saat ini?
NT: Ya, karena ditengah-tengah zaman yang semakin modern ini budaya dan tradisi kedaerahan perlahan mulai terkikis oleh budaya kebarat-baratan. Anak-anak kecil mulai tidak tau budaya aslinya, permainannya, makanan asli daerahnya, dan gaya hidupnya,yang tidak mencerminkan sebagai orang Sunda .
Maka dari itu melalui sanggar seni ringkang nonoman mudah-mudahan akan terus mampu mengedukasi kembali masyarakat, terutama para generasi muda untuk bangga mencintai kebudayaan dan tradisi keseniannya sendiri. Dan saya berkomitmen akan terus mengenalkannya. Karena kalau bukan kita? Mau siapa lagi.
GA : Kapan mulai didirikannya sanggar seni ringkang nonoman ini?
NT : Sanggar ini sudah berusia 4 tahun, berdiri sejak 20 Juni 2013, di Kp. Blok Karta dara RT 68 RW 12 Kelurahan Cigadung, Subang.
GA : Kegiatan apa saja yang dilakukan secara kontinyu di Sanggar ini?
NT : Sejauh ini alhamdulillah tempat ini selalu dijadikan ruang diskusi teman-teman budayawan dan seniman dari berbagai daerah bukan hanya di dalam melainkan luar kota Subang . Hampir setiap harinya selalu ada aktivitas interaktif diskusi. Hingga ada pagelaran budaya disini.
Selain itu tempat ini dijadikan latihan menari anak-anak, dan dijadikan tempat belajar PKL rutin siswa dan siswi SMK 10 Bandung.
GA : Fasilita apa saja yang telah disediakan di sanggar ini?
NT : Anda bisa lihat sendiri, ini tersedia panggung hiburan, ruang pelatihan, dan sekarang fasilitas mulai perlahan dilengkapi penunjang lainnya seperti mushola , leuit, gazebo, dan lainnya.
GA : Sejauh ini darimana anda bisa menjalankan proses kegiatan dan sarana di sanggar ini. Sedangkan anda hanya seorang yang super sibuk sebagai tukang bubut?
NT : Hehe, inilah yang perlu diketahui, kecintaan saya terhadap budaya dan keseniaan daerah tidak bisa dihambat oleh siapapun. Termasuk dengan uang. Saya menyediakan dan membeli apapaun untuk sanggar ini sendirian dari hasil pekerjaan bubut yang saya kerjakan.
Jadi, membeli apapun yang dibutuhkan dan apapun yang saya ingin buat dikerjakan sendiri . Ga repot, beres pekerjaan bubut mesin dari klien saya kerjakan hal lain. Termasuk kegiatan lainnya seperti diskusi dan melatih anak-anak.
GA : Selain itu apa yang terus membuat semangat anda untuk mengabdi di Kebudayaan?
NT : Sudah barang tentu sang istri tercinta dan anak-anak saya.
GA : Karena anda sangat konsen dalam menjaga kebudayaan dan kesenian daerah tentunya hal itu sejalan dengan program Pemerintah Daerah. Sejauh ini komunikasi apa saja yang telah dibangun dengan pihak pemerintah? Dalam hal ini sinergisitas yang perlu dilakukan, termasuk porsi kepedulian pemerintah?
NT : Oke, iya berbicara komunikasi dengan Pemerintah daerah sudah sering dilakukan. Bahkan tak sedikit ide-ide dari sanggar ini diterapkan sebagai bahan masukan dalam bentuk kegiatan dinas terkait. Namun sayang, selalu terjadi ide-ide itu di ambil tapi pada akhirnya sanggar kami tidak dilibatkan. Hanya bisa menepuk dada. Tapi engga apa-apalah yang penting sanggar ini bermanfaat bagi kota Subang.
Kalau masalah kepedulian Pemerintah Daerah sampai saat ini, saya enggan berkomentar. Silahkan tanya sendiri ke dinas yang bersangkutan.
GA : Selama ini anda tentunya tidak sendirian dalam mengelola sanggar seni ringkang nonoman ini?
NT : Ya betul sekali, saya juga tidak sendiri tetapi ada sosok yang selalu mendorong bahkan menjadi pelaku untuk membingbing anak-anak muda untuk belajar mengenal budaya dan berkeseniaan yakni Nandang Kusnandar SSN, Ia sosok luar biasa jebolan Etno Musikologi Universitas Sumatera Utara.
Sampai saat ini beliau masih setia memotivasi saya, sanggar seni ringkang nonoman tanpa dia tentunya tidak akan bertahan seperti ini.
Kita berdua sampai saat ini masih sering diskusi sampai subuh, hanya berbicara jejak pendapat tentang budaya dan seni di kota Subang. Sesuai motonya Ngaraksa Seni - Nalungtik Diri.
GA : Prestasi apa saja yang sudah diraih oleh sanggar anda?
NT : Kalau prestasi , banyak karya musik ataupun lagu yang sudah diorbitkan. Dan hasilnya bukan hanya dinikmati oleh warga Subang tetapi masyarakat di luar Kota Subang hingga mancanegara.
GA : Apa yang anda bayangkan tentang Kota Subang beberapa tahun kedepan dalam prespektif seorang budayawan ?
NT : Nah ini, ingat kota Subang ini adalah kawah chandra dimuka kota yang kaya akan budaya. Tetapi hal itu akan hanya menjadi sejarah, jika kita tidak berusaha menjaga dan mengembangkannya. Tantangan kedepan Subang akan semakin kompleks, kenapa saya katakan demikian? Saat ini saja Subang mulai padat bahkan di juluki kota Urban, perusahaan-perusahaan mulai masuk dan diplot menjadi sebuah kawasan. Apalagi rentetan pembangunan skala nasional yang akan segera dibangun, mulai dari pelabuhan internasional dan bandara penerbangan majalengka.
Berkaitan dengan budaya, dalam dunia modern dimana Subang mulai berubah wajah menjadi kota metropolitan, masyarakatnya sibuk dengan aktivitasnya masing-masing hanya melalui budaya keaslian kitalah yang bisa mempersatukannya. Untuk itu, sanggar ringkang nonoman hari ini adalah sebuah tempat masa depan Subang 5 atau 10 tahun kedepan.
GA : Dalam waktu dekat ini apakah sudah ada agenda acara?
NT : Ya ada, sebelum masuk bulan puasa kita mau gelar diskusi bedah buku untuk memperkenalkan cerita tentang sosok Ki Lapidin yang merupakan jagoan Subang yang hidup pada zaman Pamanoekan and Tjiasem Lands . Tiga sanggar seni budaya Subang akan mengadakan Festival Ki Lapidin medio Mei 2017 mendatang. Dalam acara itupun pihak panita akan menghadirkan narasumber beberapa penulis dan sastrawan Jawa Barat, diantanya Nazarudin Azhar, Tedi Muhtadin dan Modi Maulana.
Mengenai kegiatan ini juga telah direspon baik perusahaan media luar negeri california, bernama Atmago. com yang pada saat beran juga mendukung akan menjadikan ringkang nonoman sebagai laboratorium budaya.
GA : Oke, terakhir harapan anda apa kepada Pemerintah dan Masyarakat Subang mengenai kebudayaan?
NT : Harapannya cuma sedikit saja, dari semua pihak yang mencintai seni dan budaya untuk bisa membudayakan dan mengembangkan budaya yang mengandung kearifan lokal dan tradisi kesenian yang ada sebagai pondasi pembangunan daerah. (Galih Andika) ***
Ket. Gambar : Pendiri Sanggar Seni Ringkang Nonoman Nono Tarsono saat berada di panggung pementasan.